Latest News

Showing posts with label Selamat Tahun Baru. Show all posts
Showing posts with label Selamat Tahun Baru. Show all posts

Saturday, January 1, 2022

Selamat Tahun Baru 2022 Semoga Dunia Kehidupan Semakin Damai Di Bumi Ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

  *Selamat Tahun Baru 2022*
*Semoga Dunia Kehidupan Semakin Damai*
*Di Bumi Ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.*

Saturday, December 25, 2021

Kesempurnaan Dan Keindahan Tercipta Dari Keanekaragaman Ciptaan Di Dunia Ini, Peristiwa Yang Sangat Menginspirasi.

 
*Kesempurnaan Dan Keindahan Tercipta Dari* *Keanekaragaman Ciptaan Di Dunia Ini*, 
*Peristiwa Yang Sangat Menginspirasi.*
" _*CARILAH PERSAMAAN DALAM PERBEDAAN*_ ".
 
*Menteri Pendidikan Nadiem Makarim* seorang Muslim keturunan Arab. Sang istri wanita pribumi beragama Nasrani.   
 
*Yang menariknya* , di saat sang suami menjalankan ibadah puasa sahur bulan Ramadhan, sang istri dengan ikhlas menyiapkan makan sahur, dan juga hidangan berbuka untuk suami.  
 
*Begitu juga sebaliknya* , disaat sang istri ingin beribadah ke gereja, sang suami mengantarkannya ke gereja dan menjemputnya kembali.  
 
Di saat pak *Nadiem merayakan Lebaran* , sang istri sibuk menghias dekor nuansa Islami dan membuat aneka menu lebaran.   
 
*Sekarang giliran sang istri merayakan Natal* , tentu pak Nadiem sibuk sambil menghiasi ruangan dengan penak pernik bunga Natal.  
 
*Di saat Natal tiba* , tentu pak Nadiem mengucapkan, "selamat Natal pada istri tercinta Franka untuk tanda hormatnya kerena perbedaan agama.   
 
*Pak *Nadiem Makarim* menyembah Allah* yang Maha kuasa dan *sang istri* juga menyembah *Allah yang Maha kuasa* artinya tujuannya sama.  Yang Tuhan inginkan 
 
" _*CARILAH PERSAMAAN DALAM PERBEDAAN*_ ".
NAUSKA - Nasihat Usaha Dan Karya
 

Friday, December 24, 2021

Renungan Kisah Menjelang Akhir Tahun Tentang Ciptaan Alam Semesta,Mitakuye Oyasin, Untuk Sahabat Semua Di WAG.

Gbr ilustrasi Foto kompas com
 *Renungan Kisah Menjelang Akhir Tahun* Tentang Ciptaan Alam Semesta,*Mitakuye Oyasin*, Untuk Sahabat Semua Di *WAG*.
_*WE ARE ALL RELATED OR ALL ARE FAMILIES*_

*Kata dari bahasa Indian Lakota* yang dikenal suku lain dan banyak orang artinya adalah we are all related atau all are families. Artinya semua yang ada di alam semesta itu adalah saudara atau keluarga kita. Bukan hanya manusia tapi juga burung, serangga, pohon, tanaman, hewan, bahkan gunung, lembah, tanah, sungai dan semua yang ada di alam semesta.

*St. Fransiskus Assisi karena cintanya yang sangat besar kpd Allah Sang Pencipta alam semesta* juga memanggil semua yang ada di alam semesta sbg brother and sister. Ada brother sun, sister moon, saudara burung, saudari bunga, dan semuanya.

*Akhirnya saya sempat juga ngobrol dengan salah seorang Native Indian American* dan belajar banyak dan orang Indonesia yang lama bekerja di berbagai Indian Reservation tentang nilai nilai kehidupan orang Indian.

*Orang Indian percaya bahwa merekalah penduduk asli Amerika* sejak dahulu kala. Mereka hidup menyesuaikan diri dengan alam semesta sekitar mereka. Mereka mewariskan nilai nilai kehidupan dari generasi ke generasi dengan bercerita lisan. Jadi sulit bagi mereka utk tinggal jauh dari keluarga.

Ada kisah sedih bagaimana pemerintah dan berbagai lembaga bahkan lembaga agama memisahkan anak anak dari orang tua mereka dengan alasan utk memberikan pendidikan yang lebih baik. Dengan kondisi itu anak anak Indian kehilangan kesempatan pendidikan nilai dari orang tua mereka dan para elders. Para elders adalah para sesepuh yang menjadi wise people yaitu orang orang bijaksana yang lewat usia yang matang dan pengalaman hidup bisa menjadi guru dan role model kehidupan.

*Ada kisah sedih soal adiksi alkohol dan berbagai masalah sosial* lainnya. Namun cukup banyak yang berjuang bukan hanya utk berhenti minum tapi juga berhenti merokok. Mereka yang sdh bisa membebaskan diri dari berbagai adiksi *utk jadi orang tua yang bertanggungjawab dan orang bijaksana dengan bertambahnya usia*.

*Ada kisah sedih bahwa tanah subur atau mengandung minyak dan mineral* lain diambil pemerintah dan orang Indian diberi tempat tinggal di lokasi lain yang bukan tanah asal mereka. Jadi Indian Reservation di satu sisi menyedihkan, tapi di sisi lain adalah sarana agar mereka masih bisa memiliki tanah dan tinggal bersama suku mereka dengan bebas tanpa gangguan. Tidak ada reservation utk suku lain selain utk orang Indian. Pemerintah juga menyediakan cukup banyak dana dan fasilitas.

*Mendengarkan berbagai kisah mereka saya merasa sedih* Tapi saya juga kagum bahwa mereka tidak kehilangan identitas mereka.
 
_*Bagaimana dengan kita*_ ?

*Di AS dan Canada tapi juga di Indonesia* saya mendengar berbagai kisah bagaimana kita khususnya anak anak kita sdh kehilangan identitas kebudayaan kita. Sebagian  sudah tidak lagi menghidupi bahkan tidak memahami nilai kehidupan sebagai orang Indonesia suku Sunda, Jawa, Tionghoa, Kalimantan, Batak, Manado, Ambon, Papua, dll. Jadilah gaya hidup Amerika dan Canada yang lebih dominan misalnya mendahulukan *freedom dan hak pribadi*.

*Nilai nilai itu makin jauh dari kita* kata orang tua sudah tidak tahu bagaimana caranya mewariskan nilai nilai kehidupan. Di sekitar kita tidak ada lagi para elders yang merawat nilai kehidupan.

Maukah kita merawat nilai nilai kehidupan ? Maukah kita berjuang untuk jadi guru dan orang bijaksana ?

*Atau kita hanya sibuk bekerja dan mencari nafkah* dan lupa bahwa yang akan membuat kita bijaksana bukan hanya uang dan pekerjaan tapi juga bagaimana kita menghidupi makna kehidupan dan mewariskannya kpd generasi berikut.

*Apakah kita juga tidak lupa berjuang untuk mitakuye oyasin* ? Yaitu membangun persaudaraan sejati semua orang apapun agama dan sukunya. Juga merawat semua yang ada di *alam semesta* dengan cara hidup yang *lebih ekologis*.

*Sebentar lagi Natal*. Seorang sahabat beragama *Islam* pernah bilang bahwa beliau sedih di negara kita utk berdoa dan merayakan upacara keagamaan *masih harus minta ijin atau dijaga tentara*,polisi dan tetangga. Artinya Indonesia *belum aman dan belum damai*. Semoga kita tidak berhenti berjuang bersama *semua orang berkehendak baik* untuk *merawat kehidupan bersama semua saudara saudari yang diciptakan Allah di alam semesta*.

_*WE ARE ALL RELATED OR ALL ARE FAMILIES*_
Ferry SW,21 Des 2021
Winter Solstice  and Summer Solstice Day.
NAUSKA - Nasihat Usaha Dan Karya

Saturday, January 9, 2021

DUA RIBU DUA PULUH SATU


Ilustrasi foto: Istimewa   NASIHAT.IniOK.com

Pertama

Tahun 2020 ditutup dengan peristiwa politik dramatik. Ibarat balap mobil, putaran terakhir berujung pada sebuah tikungan tajam dan buntu: Presiden Jokowi melantik mantan kandidat wakil presiden pada Pemilu 2019—Sandiaga  Salahuddin Uno—menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dan, pelarangan serta pembubaran FPI.

Bergabungnya Sandiaga Uno ini melengkapi mirabilia, keajaiban politik, yang terjadi pada akhir pemilu. Ketika itu, mantan kandidat presiden, Prabowo Subianto dan Partai Gerindra masuk dalam kabinet Jokowi. Langkah kaki Sandiaga Uno mengikuti  ayunan langkah kaki Prabowo Subianto.

Layar panggung politik Pemilu 2019 diturunkan. Ceritanya berakhir sampai di sini. Inilah Annus Mirabilis, tahun mukjizat, tahun yang mengagumkan, tahun yang ajaib, tahun yang aneh. Meskipun negeri ini—juga negara-negara lain di berbagai sudut dunia—dicengkeram oleh pandemi Covid-19 yang menelan korban jiwa demikian banyak; dan menghancurkan perekonomian dunia.

Politik memang selalu penuh kejutan. Politik tidak selalu berjalan linear. Untuk mendapatkan jumlah empat, tidak harus selalu dua ditambah dua; bisa tiga ditambah satu, bisa lima dikurangi satu, bisa pula delapan dibagi dua. Pendek kata, segala kemungkinan bisa terjadi. Maka itu, ada berbagai ragam definisi politik.(baca terus artikel bagus di bawah ini ....πŸ‘ΈπŸ‘·πŸ‘΄πŸ‘³πŸ‘‡ ) NASIHAT.IniOk.com

Ada yang mendefinisikan politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat. Definisi lain, politik adalah upaya atau cara untuk memperoleh sesuatu yang dikehendaki. Sementara Harold D. Laswell dan A. Kaplan dalam Power Society: menegaskan bahwa “politik adalah masalah siapa, mendapat apa, kapan, dan bagaimana.”

Itulah politik. Bahwa ada yang kecewa dari “ujung dari putaran terakhir itu?” Ya, pasti. Ada pro dan kontra dari kedua belah pihak. “Untuk apa berdarah-darah dalam pemilu, kalau ujungnya seperti itu.” Begitu salah satu keluhannya.

Memang, Pemilu 2019 telah mengubah tahun yang semestinya menjadi “tahun pesta demokrasi”; tahun “perayaan perbedaan” menjadi annus horribilis, tahun yang mengerikan, menakutkan, menggetarkan, seram, keji, dan keras.

Menjelang, selama, dan setelah Pemilu 2019, negeri ini seperti diselimuti awan hitam, awan kegelapan. Bayang-bayang perpecahan karena kepentingan politik dari hari ke hari rasanya semakin jelas. Apalagi kalau mendengarkan perkataan dan pernyataan para elite politik, para tokoh (juga yang ditokohkan atau merasa dirinya tokoh) politik, sungguh seolah hanya kibasan “tongkat sakti” saja yang bisa menyelamatkan negeri ini.  

Tidak berlebihan kalau Pemilu 2019 akan dicatat dalam buku besar sejarah bangsa dengan tinta hitam legam sebagai pemilu yang menimbulkan perbenturan demikian keras sesama anak bangsa.  Pertarungan demikian keras, tajam, bahkan kasar. Berbagai  narasi politik yang membuat telinga dan hati panas, berbagai ragam ujaran kebencian, berbagai bentuk berita hoaks, berbagai warna cercaan bernuansa sektarian, dan berbagai tindakan intoleran bertumpah ruah, membanjiri negeri ini lewat media sosial.

Pesta demokrasi tak lebih dari menghamburkan kata-kata sekadar untuk memfitnah dan mencerca pihak lain. Kebebasan berpendapat dan bersuara yang dijamin oleh demokrasi telah menjadi kampanye hitam disebar-luaskan. Urusan bangsa yang sangat besar dan penting, telah dijadikan sebagai urusan personal. Berpolitik semata-mata untuk memburu kepentingan diri, kekepentingan kelompok, kepentingan golongan sendiri, bahkan kepentingan keluarga.

Celakanya lagi, semua itu justru dilakukan oleh mereka yang selama ini dipandang sebagai yang melek politik, yang dianggap memiliki kesadaran tinggi akan demokrasi, yang dijadikan panutan, dan yang suaranya didengar. Mereka justru bersuara sumbang. Mereka justru ikut menebarkan paku-paku tajam yang merobek-robek sulaman indah kebhinekaan.

Tetapi, “tikungan tajam yang berujung di jalan buntu” itu menegaskan bahwa politik memang drama karakter dan keadaan yang tidak ada habisnya (Andrew Gamble, 2019); yang tidak ada akhirnya.

Kedua

Ilustrasi: Istimewa    NASIHAT.IniOK.com

Ada yang mengatakan, selama politik diartikan sebagai “kegiatan dimana orang bernegosiasi, berkolaborasi, dan bekerja sama untuk ‘How to get the power’?”, maka jangan harap akan tercipta ketentraman, perdamaian, dan persahabatan serta persaudaraan sejati.

Mengapa? Karena prinsip yang pertama-tama akan dipegang dan dijunjung tinggi dalam berpolitik adalah seperti yang diungkapkan dalam bahasa Latin, Hostis aut amicus non est in aeternum; commoda sua sunt in aternum—“lawan atau kawan itu tidak ada yang abadi; yang abadi hanyalah kepentingan.” Dan, Lord Palmerston (1784-1865) merumuskan menjadi: “tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada adalah kepentingan.”

Maka, seperti di atas sudah disebut bahwa kini berpolitik itu lebih berurusan dengan siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana cara mendapatkannya. Benar sekali adagium di atas. Banyak kali peristiwa politik membuktikan adagium tersebut.

 Apa yang terjadi pada bulan Mei 1998, ketika situasi demikian genting, bisa menjadi salah satu contoh bahwa “tidak ada kawan dan lawan yang abadi yang abadi adalah kepentingan.” Ketika itu,  sejumlah menteri meninggalkan Soeharto; dan tindakan mereka ikut mempercepat berakhirnya kekuasaan Soeharto yang sudah bertahan tiga dasawarsa.

Maka orang akan mengatakan, politik bisa menjadi kejam.  Apalagi kalau sudah menyangkut kekuasaan;  bagaimana mendapatkan, mempertahankan, dan memperbesar kekuasaan. Maka, dalam bahasa Niccolo Machiavelli, terjadilah penghalalan segala cara. Pada saat itu, kesetiaan hilang. Dalam perspektif ini, politik dipandang sebagai tindakan yang tidak berprinsip, tidak dapat dipercaya, atau tidak jujur, tipu daya.

Ini sama dengan peperangan. Tujuan akhir sebuah peperangan adalah merebut kemenangan. Demikian pula dalam berpolitik, kemenangan yang ingin menjadi tujuan akhir. Kemenangan itu akan membawa kekuasaan. Tidak ada satu pihak pun yang mau menderita kekalahan. Karena itu, segala cara dilakukan untuk mewujudkan kemenangan itu.

Itulah politik riil, di mana pertarungan untuk mendapatkan kekuasaan menjadi yang pertama dan utama. Tentu pengertian politik seperti tersebut di atas sangat berbeda dengan pengertian yang disodorkan oleh Frans Magnis-Suseno.

 Menurut Frans Magnis-Suseno politik adalah segala kegiatan manusia yang berorientasi kepada masyarakat secara keseluruhan, atau yang berorientasi kepada negara. Sebuah keputusan disebut keputusan politik apabila diambil dengan memperhatikan kepentingan masyarakat sebagai keseluruhan. Suatu tindakan harus disebut politis apabila menyangkut masyarakat sebagai keseluruhan.

Dengan demikian, tujuan akhir dari kegiatan politik adalah untuk kepentingan masyarakat banyak. Itulah karenanya, tujuan politik dimaksudkan untuk terciptanya kemaslahatan bersama, kemakmuran masyarakat secara keseluruhan, yang juga sering disebut sebagai bonum commune.

Ketiga

Ilustrasi: Istimewa   NASIHAT.IniOk.com

Kalau berhentinya balapan secara tak terduga di “tikungan tajam yang berujung di jalan buntu” adalah untuk bonum commune, tentu itu yang diharapkan. Bila hal itu benar-benar terjadi—sebagai tujuan pertama dan utama—maka  mulai tahun 2021 ini rakyat sedikit boleh mulai berharap akan menikmati ketentraman, tidak diharu-biru oleh “celotehan-celotehan” yang disuarakan oleh para “pemain politik” yang suka menggunakan topeng beraneka wajah berbeda.

 (ada yang mengenakan topeng berwajah menggelikan, lucu; ada yang menyebalkan; ada yang menjijikkan; ada menakutkan; ada yang kelihatan bijak; ada yang kelihatan alim dan saleh; tetapi ada juga yang sungguh-sungguh memuakkan).

Hilangnya—atau sekurang-kurangnya, samar-samarnya, sayup-sayupnya—hiruk-pikuk, kebisingan politik akan sangat berguna dalam memenangi “perang” melawan pandemi Covid-19, yang akan berimplikasi positif bagi banyak bidang kehidupan. Sudah begitu banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini—termasuk yang paling berat adalah soal toleransi antar-umat beragama, soal kebhinekkaan. Maka, kalau ditambah dengan “celotehan-celotehan” para “pemain politik” yang sekadar mencari popularitas,  bangsa ini tidak akan pernah beranjak maju, hanya berputar-putar dari itu ke itu saja. Sementara bangsa lain sudah lari tunggang langgang menuju cakrawala baru.

Tetapi, seperti diingatkan oleh Andrew Gamble bahwa politik sebagai suatu kegiatan selalu memiliki hubungan yang sulit dengan kebenaran. Maka itu benar  adagium “tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan.” Itulah sebab ada nasihat bijak,  “hati-hatilah, jangan mempercayai seorang teman, kecuali kalau engkau sudah mengujinya.” Mengapa demikian? Karena, “selama periuk masih panas, persahabatan tetap hidup.”

Sama seperti yang dikatakan oleh Cicero (106-43 SM) seorang filosof Romawi, “Amicus certus in re, incerta cernitur”—sahabat yang sejati dikenal di saat-saat sulit. Jadi, bukan dikenal ketika pesta sudah usai, kursi sudah ditumpuk dimasukkan ke gudang, tenda sudah gulung, hiasan dicopot semua, piring-piring dan gelas dicuci, dan orang pulang ke rumah masing-masing.

Semoga tidak demikian. Karena, kita semua berharap bahwa tahun 2021 benar-benar akan menjadi Annus Mirabilis, tahun mukjizat, tahun yang mengagumkan, tahun yang ajaib, seajaib  berhentinya balapan secara tak terduga di “tikungan tajam yang berujung di jalan buntu.”

Sekurang-kurangnya, keajaiban itu bertahan hingga tahun 2023 menjelang  saat datangnya Tahun Politik, tahun yang cenderung memberikan hawa untuk mencari menang-menangan, yang cenderung menghalalkan segala cara demi kemenangan, demi kekuasaan lagi. *** By Trias Kuncahyono

Source : https://triaskun.id/2021/01/02/dua-ribu-dua-puluh-satu/

https://nasihat.iniok.com/2021/01/dua-ribu-dua-puluh-satu.html



Email : fellyginting95@gmail.com

Name

Email *

Message *