Latest News

Tuesday, July 23, 2019

GENERASI TRANSISI


Perhatikan yg Lahir antara 1940 - 1968
GENERASI TRANSISI

Seorang anak muda bertanya kepada kakeknya :
 "Kakek!Bagaimana orang-orang zaman kakek tinggal sebelumnya dengan :

Tidak ada teknologi
Tidak ada pesawat
Tidak ada internet
Tidak ada komputer
Tidak ada TV
Tidak ada AC
Tidak ada mobil
Tidak ada ponsel ? "

Kakeknya menjawab:

"Seperti bagaimana generasimu hidup hari ini

Tidak ada doa
Tidak ada belas kasihan
Tidak ada kehormatan
Tidak ada hormat
Tidak ada karakter
Tidak malu
Tidak sopan santun "

Kami, orang-orang yang lahir antara tahun 1940-1968 adalah orang-orang yang beruntung ...
Hidup kita adalah bukti hidup.

👉Sementara bermain dan mengendarai sepeda, kami tidak pernah memakai helm.

👉Setelah sekolah, kami bermain sampai senja; Kami tidak pernah menonton TV.

👉Kami bermain dengan teman sejati, bukan teman internet.
     
👉 Jika kita merasa haus, kita minum air kendi bukan air kemasan.
         
 👉Kita tidak pernah sakit berbagi segelas minuman dengan 4 teman.
         
👉Kita tidak pernah mikir bobot makan nasi tiap hari.
           
👉Tidak ada yang terjadi pada kaki kita meski bertelanjang kaki tanpa alas kaki.

👉Kami tidak pernah menggunakan suplemen untuk menjaga kesehatan diri.
           
👉Kami biasa membuat mainan sendiri dan bermain dengan mereka.
           
 Orang tua kita tidak kaya. Mereka memberi cinta .. bukan kuota.
           
👉Kami tidak pernah memiliki ponsel, DVD, stasiun bermain, Xbox, video game, komputer pribadi, internet, chatting - tapi kami punya teman sejati.

 👉Kami mengunjungi rumah teman kami tanpa diundang dan menikmati makanan bersama mereka.
         
 👉Relatif tinggal di dekat keluarga sehingga waktu dinikmati.
         
👉Kita mungkin ada di foto hitam putih tapi Anda bisa menemukan kenangan berwarna-warni di foto-foto itu.

👉 Kami adalah generasi yang unik dan paling mengerti, karena kami adalah Generasi terakhir yang mendengarkan orang tuanya ....
dan juga Generasi yang pertama yang harus mendengarkan anaknya.

Kami adalah edisi TERBATAS ! 

Tulisan ini luar biasa bagus, silah kan anda simak benar atau tidak 😊

56 comments:

  1. Kata siapa tulisan itu luar biasa bagus? Hahaha. Saya sgt ga setuju n TIDAK BENAR!! Itu semacam generalisasi. Pernyataan2 yg ini aja udh ga bener

    Tidak ada doa
    Tidak ada belas kasihan
    Tidak ada kehormatan
    Tidak ada hormat
    Tidak ada karakter
    Tidak malu
    Tidak sopan santun "

    Belum lagi pernyataan2 stupid yg lain hehehe


    Be smart enough to write!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. I'll give you something:
      "Be smart enough to write!!!"

      Delete
    2. Punya agama Tapi tidak pernah taat bisa lihat kok di Indonesia beragama Islam tapi nyatanya gk pernah taat seperti caci maki, rasis dll.
      Orang melakukan tindakan kriminal lalu diminta hukum mati situ punya belas kasihan?.
      Kehormatan jaman sekarang cewe” bahkan yg berjilbab melakukan tindakan tidak senonoh dan byk cewe menunjukkan aurat untuk membuat cowo tertarik dimana kehormatan?.
      Hormat ke orang yg lebih tua? Orang tua Udh rawat anak Dr kecil sampai dewasa tau apa yg dilakukan generasi skrg? Ortu nya dibuang dan tidak diakui bisa lihat kok buktinya.
      Karakter kita sering meniru semua orang dan tidak menciptakan sendiri tanpa kita sadari.
      Malu? Coba semua orang selfie aneh” dan gaya aneh” di tempat tidak lazim, itu apa Ngak malu?
      Kepada orang lain sopan santun? Mimpi setiap orang cuma bs pakai kata” kotor.
      Coba apa nya yg bodoh? Coba buktikan 1 kata saya saja yang tidak benar.

      Delete
    3. Heeddeeehh ... stupid banget niiih tulisan !!!

      Delete
    4. Tuh, bener kan. Semakin lu nyangkal, semakin benar tulisan ini.

      Delete
    5. Yg ngga setuju tulisan ini ketauan banget mereka yg sekarang ini ga tau apa itu namanya kaset, floppy disk, meriam bambu, galasin, tali merdeka, layangan peteng, gatrik, bola bekel dan MacGyver. NGAKU DAH LU PADA.

      Delete
  2. Ini yang nulis orang sakit jiwa. Berani menilai generasi lain tidak punya hormat dan kehormatan.

    Sarkas dan tidak punya malu menganggap di paling punya hormat dan kehormatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semakin Anda membantah bahwa tulisan ini dari orang yg sakit jiwa maka andalah yg kurang waras dan anda orang yg tidak berakhalak .

      Delete
  3. Tergantung sudut pandang masing2

    ReplyDelete
  4. Klw dulu saling nasehat menasehatin, saling ingat mengingatkan...hhhmmm klw skrng kau urus az diri kau dan keluarga kau, ga usah kau urusin orang lain,,,langsung terdiam

    ReplyDelete
  5. DI LIAT AJA DARI SUDUT PANDANG YG POSITIF GAK USAH MARAH,itu adalah peringatan buat kita,agar kita memahami apa yg hilang dalam hidup pd generasi ini? Nah ambil kembali kalau Anda marah sama halnya anda meng iyakan tulisan itu. Cobak siapa yg menulis pd crita itu? Seorang Kakek khan ? Lalu masihkah kita punya sopan satun terhadap seorang kakek, sehingga kita harus marah? Hilang hormat kita, hilang satun kita, hilang rasa kita jatuh peradapan kitu kemarahan anda semakin membuktikan teofi itu.

    ReplyDelete
  6. Katanya sopannya gak hilang malunya gak hilang, adabnya gak hilang kok marah di ingatkan orang tua wkkk

    ReplyDelete
  7. Kalimat atau kata dalam penafsiran yg paling dalam dan mempunyai makna sebagai pedoman dan perbandingan yg mungkin bisa di katakan sangat akurat dan fakta 99% nyata, sehingga sebagai dasar untuk bahan kajian ataupun penelitian, apa yg hilang jika yg lahir di atas 1969 an apakah agama lepas kontrol, moral, edukasi, sosial, politik, budaya,cultur, modernisasi, teknologi, ataukah banyaknya adopsi aturan2 yg menyimpang dari ketentuan Allah, ataukah manusia yg lahir sudah tidak bisa membedakan mana benar dan mana yang salah, karena peradaban teknologi yg modern, kepercayaan hanya sebatas tercantum dalam identitas KTP atau yg lainnya namun pola cara hidupnya tdk sesuai dgn kepercayaannya, ataukah memang karena adopsi hukum, aturan2 yg bertentangan dengan kepercayaan yg dianut oleh masing2 orang, mari kita renungi agar kita bisa intropeksi diri secara khusus dan secara umum untuk semua manusia di muka bumi ini, tks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang" yg lahir diatas generasi transisi lebih banyak menggunakan ego, mau menang sendiri, seakan paling suci dgn agama yg dianut,tidak mau menerima kalah pdhl sudah melakukan kesalahan. Apalagi di era tahun 2000 an banyak orang" yg tidak berakhlak berteriak revolusi akhlak, melanggar aturan dan melangar hukum yg berlaku tapi tidak mau bertobat bahkan berteriak seakan akan terzholimi oleh rezim ini. Generasi transisi yg memimpin sedang membangun negeri disatu sisi yg lahir diatas tahun 1969 sedang merusak negeri dgn menggunakan agama identitas sebagai tameng.

      Delete
  8. Hidup sekarang beda dengan kehidupan yang dulu. Kita hidup dizaman melenial dimana teknologi yang semakin canggih dan serba ada.

    ReplyDelete
  9. Orang bijak tak kan luluh oleh pengaruh tp mengolah pengaruh menjadi bermanfaat dan berguna bg orang banyak...!!!

    ReplyDelete
  10. Anda marah berarti anda korban dari tulisan ini... posotif sikit aja napa sih.

    ReplyDelete
  11. Hidup itu dinamis , harus mengikuti perkembangan

    ReplyDelete
  12. Pada intinya dalam menjalani hidup ini baik nya kita sesama mahluk hidup yg telah diciptakan Allah SWT yg telah diberi akal sehat Budi pekerti hendaknya saling berbagi tolong menolong hormat menghormati baik muda dan tua serta mengasihinya

    ReplyDelete
  13. "Didalam hidup ini bukanlah tentang siapa yang terbak.
    Tetapi siapa yang mau berbuat baik".

    Didalam kegiatan di alam:
    Yang pertama biasanya dikejar oleh para petualang. Egois, kejar prestasi.
    Yang kedua biasa dilakukan para penjelajah. Berbuat kebaikan demi ilmu pengetahuan dan membatu sesama. Salam

    ReplyDelete
  14. Yg marah edisi milenial, yg nerimo edisi old he..he..

    ReplyDelete
  15. Nah, sekarang pertanyaan saya adalah: Siapa yang mendidik dan membesarkan generasi “Tidak ada doa, Tidak ada belas kasihan, Tidak ada kehormatan, Tidak ada hormat, Tidak ada karakter, Tidak malu, Tidak sopan santun” itu?

    Lucu bagi saya saat melihat generasi tua komplain tentang kelakuan generasi muda yang mereka didik sendiri.

    ReplyDelete
  16. Dari dulu juga komen para generasi tua seperti ini. Anak jaman sekarang bebas nian.. Masih ingat gak lagu Koes Plus (Muda mudi jaman sekarang, pergaulan bebas nian...) dan masih banyak lagi. Kadangkala saat itu sy msh SMP punya gaya dan ciri generasi masing masing... Msh ingat gak ada mode ATD buat cewek cewek (ATD=anti tjelana dalam), terus ada berbagai macam Geng... Dll semua itu punya masanya tersendiri, jadi tidak perlu setiap generasi menjadikan ukuran thd generasi yg berikut... Bersikap bijaklah Titik.

    ReplyDelete
  17. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  18. Sy lahir th 1980an..rasanya ndak separah stigma negatif yg dilabelkan pada generasi sy oleh penulis. Barangkali penulis perlu keluar areanya saat ini agak jauh melampaui rumah tetangganya sehingga bisa lebih mengerti dan tidak membuat generalisasi yg keliru. Tks. Salam.

    ReplyDelete
  19. Sangat bermanfaat karna bnyk motivasinya

    ReplyDelete
  20. Janganlah komplain untuk kehidupan apapun generasinya. Karena percayalah semua akan indah pada waktunya.

    ReplyDelete
  21. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  22. Alhamdulillah jaman old n jaman now berkolaborasi dengan baik dikeluarga kami semua tergantung pada cara qt menggunakan yg canggih2 untuk hal positiv dan mendidik dengan cara yg ada dijaman now...inshaa Allah semua akan berjalan dengan baik

    ReplyDelete
  23. Kalo yg baca marah ato kesel,, brati anda kalah,, sama halnya dg nonton film.. Smakin kita kesel,, mka semakin berhasil aktor dlm film tersebutt

    ReplyDelete
  24. I should be read more to be understanding

    ReplyDelete
  25. Generasi baru berkolaborasilah dengan generasi tua dan generasi tua pasti beradaptasi dgn kehidupan di era milenial sekarang ini...sehingga nilai2 kesantunan, agama, budaya tidak akan pudar

    ReplyDelete
  26. Generasi baru berkolaborasilah dengan generasi tua dan generasi tua pasti beradaptasi dgn kehidupan di era milenial sekarang ini...sehingga nilai2 kesantunan, agama, budaya tidak akan pudar

    ReplyDelete
  27. Sudah jamannnya, lagian anak anak kita tdk punya publik figur, maka dari itu mari kita didik anak anak kita spy lebih beraklhak mulia, ini tanggung jawab kita sbg orang tua

    ReplyDelete
  28. Memasuki Era Industri terjadi Revolusi Sosial, sekarang Memasuki Era Informasi, lebih dasyat lagi perubahan tatanan dalam masyarakat, Baik perubahan yang positif maupun yang Negatif.
    Untuk Meminimalisir dampak negatif Masih ada harapan. (cahaya lilin mampu menerangi Kegelapan).
    Mari kita mulai dari diri sendiri untuk melalukan perbaikan yang salah dan melakukan apa yang benar.

    ReplyDelete
  29. Memasuki Era Industri terjadi Revolusi Sosial, sekarang Memasuki Era Informasi, lebih dasyat lagi perubahan tatanan dalam masyarakat, Baik perubahan yang positif maupun yang Negatif.
    Untuk Meminimalisir dampak negatif Masih ada harapan. (cahaya lilin mampu menerangi Kegelapan).
    Mari kita mulai dari diri sendiri untuk melalukan perbaikan yang salah dan melakukan apa yang benar.

    ReplyDelete
  30. Kita dapat ngikutin waktu yg berputar kayak jem diding tp hanya yg maha segala NYA dan kepada NYA waktu kita dihentikan kapan dan kita tidak pernah kapan, Ashaduallah illahailALLOH waasduanna muhamadarosulALLOH

    ReplyDelete
  31. kok pada heboh"itu kan pembicaraan kakek dg cucunya" kl kamu bukan cucunya gak usah marah...mending tanya aja pada kakek mu sendiri

    ReplyDelete
  32. https://nasihatcanggih.blogspot.com/2019/05/how-millennials-kill-everything.html?m=0

    ReplyDelete

  33. Nasihat Canggih - Top Good Advisor Indonesia
    Perlu Untuk Dicontoh dan Diterapkan Dalam Kehidupan Anda (fg95)

    SUNDAY, MAY 5, 2019
    How Millennials Kill Everything


    How Millennials Kill Everything

    Judul tulisan ini bakal menjadi judul buku baru.
    Mudah-mudah buku ini bisa keluar dalam 2-3 bulan ke depan.
    Coba googling dengan kata kunci “millennials kill”, maka Anda akan mendapati betapa millennial adalah “pembunuh berdarah dingin” yang membunuh apapun.

    Di halaman pertama hasil pencarian Google saya menemui judul-judul menyeramkan seperti ini:
    “RIP: Here Are 70 Things Millennials Have Killed”
    “Things Millennials Are Killing in 2018”
    “Millennials Kill Again. The Latest Victim? American Cheese”
    “Millennials Are Killing the Beer Industry”
    “How Millennials Will Kill 9 to 5 Job?”

    Bahkan ada situs yang menulis:
    “The Official Ranking of Everything Millennials Have Killed.”

    Di dalamnya peringkat produk dan layanan yang paling cepat “dibunuh” oleh milenial. Ada dalam urutan peringkat itu produk-produk seperti: berlian di urutan 29; golf di urutan 23; department store di urutan 20; sabun batang di urutan 15; kartu kredit di urutan 10; dan bir di urutan 5.

    Millennials Kill Everything New

    Kenapa milenial bisa menjadi “pembunuh berdarah dingin” bagi begitu banyak produk dan layanan? Karena perilaku dan preferensi mereka berubah begitu drastis sehingga produk dan layanan tersebut menjadi tidak relevan lagi, alias punah ditelan zaman.

    Contohnya golf. Tren dunia menunjukkan, sepuluh tahun terakhir viewership ajang-ajang turnamen golf bergengsi turun drastis setelah mencapai puncaknya di tahun 2015. Tahun lalu bahkan turun drastis 75%. Porsi kalangan milenial yang menekuni olahraga ini juga sangat kecil hanya 5%.

    Olahraga elit ini memang digemari kalangan Baby Boomers dan Gen-X, namun tidak demikian halnya dengan milenial. Celakanya, semakin surut populasi Baby Boomers dan Gen-X, maka semakin tidak populer pula olahraga yang lahir sejak abad 15 ini. Dan bisa jadi suatu saat akan puhah.

    Yang sudah kejadian sekarang adalah departement store. Tahun lalu kita menyaksikan departement store di seluruh dunia termasuk di Indonesia (Matahari, Ramayana, Lotus) pelan tapi pasti mulai berguguran.

    Sumber penyebabnya adalah milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya. Pertama karena mereka mulai berbelanja via online. Kedua, milenial kini tak lagi heboh berbelanja barang (goods), mereka mulai banyak mengonsumsi pengalaman (experience/leisure). Mereka ke mal bukan untuk berbelanja barang, tapi cuci mata, nongkrong dan dine-out mencari pengalaman penghilang stress.

    Pasar properti beberapa tahun terakhir seperti diam di tempat. Alih-alih semua pelaku berharap ini hanya siklus “bullish-bearish” biasa yang nanti akan naik dengan sendirinya, saya curiga ini adalah kondisi “bearish berkelanjutan” sebagai dampak terbentuknya “new normal” perekonomian kita yang melesu dalam jangka panjang.

    Mungkin biangnya bisa berasal dari pergeseran perilaku dan preferensi milenial. Beberapa kemungkinannya: Milenial mulai menunda nikah, menunda punya rumah, dan menunda punya anak. Belum lagi minimalist lifestyle yang kini banyak diadopsi milenial mendorong mereka memilih rumah ukuran mini.

    Program KB yang sukses membuat late Baby Boomers dan Gen-X membentuk keluarga kecil dengan dua anak. Dengan jumlah anggota keluarga yang kecil, maka anak-anak mereka (milenial) cenderung menempati rumah orang tua dan sharing dengan sesama saudara. So, tak perlu beli rumah baru lagi. Ini yang menjadi biang kenapa market size properti cenderung mandek.

    Tak hanya itu, tempat kerja pun nantinya pelan tapi pasti bisa “dibunuh” oleh milenial. Bagi Baby Boomers dan Gen-X bekerja rutin tiap hari masuk kantor dari jam 8 pagi sampai 5 sore (“8-to-5”) adalah sesuatu yang lumrah. Namun tak demikian halnya dengan milenial.


    Bersambung....
    Sumber:nasihatcanggih.blogspot.com

    ReplyDelete
  34. Semua ada masanya dan semuanya akan pergi. Mari kita petik hikmatnya.

    ReplyDelete
  35. Siapa yang bisa memilih untuk lahir di era sekarang atau dulu ...
    Orang cerdas adalah yang bisa menikmati hidup dengan segala apa yang diberi-NYA ... semoga semuanya dalam kebaikan

    ReplyDelete
  36. Ini Pertanda bahwa Dunia ini sudah Tua

    ReplyDelete
  37. Ambil sisi positif Aja'terimalah nasehat itu Meskipun pahit diterima.
    Hidup untuk Bermanfaat jgn saling menghujat...

    ReplyDelete
  38. Kita hidup tidak bisa memilih kapan kita lahir.saat kita lahir itulah jaman yang kita hadapi.selama kita berpegang teguh pada tali agama Allah.generasi old atau generasi milenial sama saja. Yang penting kita hidup sesuai aturan Allah.maka akan selamat dunia akhirat

    ReplyDelete
  39. Tidak semua yang dia katakan benar,,zaman dulu saling berperang perebutan Kekuasaan.keserakahan,saling membunuh tanpa belas kasihan.
    Memasuki Era Milenial,semua telah berubah.Jadi masing2 menanggapinya saja.Ty

    ReplyDelete

Email : fellyginting95@gmail.com

Name

Email *

Message *