Latest News

Showing posts with label Filosofi. Show all posts
Showing posts with label Filosofi. Show all posts

Thursday, December 17, 2020

Filosofi Memakai Sepatu,Pelajaran Bhineka Tunggal Ika,Bagikan Untuk Rekan Anda.


*FILOSOFI SEPASANG SEPATU* 

 *S.E.P.A.T.U* 🥾🥾
👢👢Bentuknya tidak 
        persis sama, 
        namun serasi...

🥾🥾Saat berjalan 
        tak pernah 
        kompak, tapi 
        tujuan'nya 
        sama...

👟👟Tak pernah 
        ganti posisi, 
        namun saling 
        melengkapi...

🥿🥿Tidak pernah 
        ganti pasangan 
        walau sudah 
        usang dan 
        karena  
        dimakan usia...

👢👢Sederajat, 
        namun tidak 
        ada yang 
        merasa lebih 
        tinggi atau   
        lebih rendah...

👟👟Bila yang satu  
        hilang, yang  
        lain Tidak 
        memiliki arti...

👠👠Tidak pernah 
        saling injak 
        ataupun saling 
        tendang...

👞👞Apabila yg 1
        sakit krn robek 
        hingga hrs
        dijahit maka yg 
        lain setia 
        menunggunya..

🥾🥾Walau tidak 
        pernah jalan 
        bergandengan, 
        s'lalu yang 1 di 
        depan yang lain 
        di belakang 
        namun tidak 
        akan pernah 
        tinggalkan satu 
        sama yang 
        lain..      

*SEPATU* =  *SE jalan* 
               *sam PA i *
                        *TU juan.* 

_"*Sepasang SEPATU bisa menjadi contoh terbaik bagi Arti sebuah kebersamaan dan persaudaraan kita* ....🤝
*SELALU DAMAI DAN RUKUN SUKSES BERSAMA* 

Monday, May 11, 2020

Pandemik, Tubuh, dan Ideologi Digital


Social distancing yang kemudian berkembang menjadi physical distancing yang kita dengar selama pandemik covid-19. Kita diwajibkan untuk menjaga jarak satu sama lain, tidak bersentuhan secara fisik, dan dengan sadar melakukan isolasi diri (karantina mandiri).

Larangan sosial kemudian diperketat dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai dari ibu kota, beberapa wilayah penyangga ibu kota, bahkan sebagian kota besar. Konsekuensi dari larangan ini ialah hentikan segala aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan.

Tradisi berkumpul, silahturahmi, bahkan mudik sebagai bagian dari karakter masyarakat yang ramah, toleran dan menjunjung tinggi nilai kekeluargaan serta gotong royong dipandang sebagai kegiatan yang rentan terhadap penularan virus covid-19.

Perjumpaan secara fisik dalam ruang dan waktu dibatasi. Ruang dan waktu kini berubah menjadi sosok artifisial yang tidak harus ditandai oleh pertemuan secara natural (sentuhan fisik). Kita juga tidak dapat mengelakkan fakta bahwa virus ini pelan-pelan melebar dan menghancurkan kebutuhan manusiawi kita yang paling mendasar. Sampai pada titik ini, mungkin kita perlu bertanya, apakah kita siap menghadapi bencana pandemik ini?
[https://nasihatcanggih.blogspot.com/2020/05/pandemik-tubuh-dan-ideologi-digital_10.html]

Penghormatan terhadap Tubuh

Kebanyakan orang mungkin tidak berpikir bahwa krisis pandemik ini melepaskan mereka dari segala kesibukan dan memberi waktu sejenak untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat. Slavoj Žižek (2020) dalam karyanya tentang Pandemic! Covid-19 Shakes The World, pada bagian pengantar menyinggung perintah touch me not (Jangan sentuh aku!). Menurutnya, mata menjadi satu-satunya jendela ke “dalam” diri yang lain, mampu melihat jauh ke dalam yang lain dan mampu mengungkapkan lebih dari sekadar sentuhan.

Ada semacam totalitas pemberian diri, menyatu ke dalam realitas, bukan lagi soal aku (saya) tetapi kita (sesama). Isolasi dan pembatasan aktivitas sosial harus dilihat sebagai kondisi dimana tubuh menarik diri dan mengumpulkan kembali keberanian untuk bersikap lebih bijaksana terhadap realitas di luar dirinya, sesama dan alam semesta.

Kekacauan sikap terhadap tubuh yang dipertontonkan selama situasi pandemik secara tidak langsung memperlihatkan kekacauan konstelasi nilai pada level yang paling mendasar yaitu pribadi sebagai subjek.

Paradigma tubuh sebagai proses pembentukan sikap dan nilai tentu tidak dapat dipisahkan dari pola berpikir konseptual yang berkelin dan dan berjejaring. Pola konseptual berkelindan sering memposisikan tubuh sebagai subjek sekaligus sebagai objek dalam waktu yang bersamaan (Merleau-Ponty).

Konsep tentang tubuh, diri, pikiran, emosi menjadi rumit untuk dipahami. Sedangkan, pola konseptual berjejaring, menempatkan tubuh sebagai entitas yang ‘terlempar’ ke dalam dunia (Heidegger). Kita tidak bisa memilih tubuh (termasuk bentuk tubuh) atau lingkungan sosial seperti apa yang dipertontonkan.

Tubuh hanya satu entitas dari konsep jejaring kehidupan yang maha luas. Maka dengan melihat perilakutubuh hari ini akan terlihat pula paradigma konseptual dan nilai-nilai sakralitas kebertubuhan macam apa yang dihayati dan dihidupi oleh manusia dan entitas lain di luar manusia. Nilai – nilai ini yang seharusnya tidak boleh diambil alih oleh krisis pandemik virus corona.

Harapan terbesar dari perintah tidak saling menyentuh dan tetap menjaga jarak sosial hendaknya dimaknai sebagai kesempatan untuk memperkuat intensitas hubungan kita dengan orang lain. Jika selama ini, kita sering menghindar bahkan melupakan orang-orang terdekat kita, sekarang menjadi momentum bagi kita untuk sepenuhnya mengalami kehadiran mereka, dan merasa betapa pentingnya mereka dalam kehidupan secara personal.

Tubuh dimaknai sebagai alat untuk mengalami dan memahami realitas secara menyeluruh dan apa adanya. Manusia menyadari kebertubuhannya dan berusaha membatasi dirinya dari dunia luar. Semua ini hanya dapat terjadi apabila kita mampu memberi ruang untuk memaknai bahwa tubuh sekalipun memiliki muatan sakral.

Ideologi Digital

Selama pandemik ini, kita seolah tidak mampu menolak betapa besar pengaruh dan kontrol digital terhadap hidup kita sekaligus meningkatnya ancaman digital yang dianggap mampu mengendalikan dan memanipulasi realitas privasi.Kita tentunya selalu update dengan data terkait perkembangan pandemik ini, tetapi kita tidak bisa berhenti pada data. Penafsiran, isu, dan fakta kemudian menempatkan situasi pandemik ini sebagai konspirasi kepentingan dan ideologi.

Semakin banyak dunia kita terhubung, semakin banyak bencana lokal yang dapat memicu ketakutan dan krisis multidimensi secara global. Pada titik ini, perilaku digital bukan semata milik subjek (manusia), bukan pula milik media teknologi, tetapi perilaku itu milik jejaring mediasi, persekutuan antara manusia dan benda yang mengalami proses pertukaran kompetensi, saling menawarkan peluang, tujuan, dan fungsi, dan keuntungan.

Apa yang sedang kita hadapi saat ini menjadi bukti lahirnya era digital; yang diramalkan terjadi pada Revolusi Indusitri 4.0. Era digital dibangun dengan sederetan revolusi mikroprosesor, algoritma, dan sistem informasi untuk mengintegrasikan teks, suara, dan gambar dalam bentuk digital yang mudah disimpan, direproduksi, dan mudah diakses oleh siapapun.

Internet bermetamorfosis menjadi mesin yang mengubah fakta objektf. Kita tinggal di rumah, bekerja secara digital, berkomunikasi melalui video konferensi, berolahraga di sudut rumah, mendapatkan semua yang kita perlukan dari dalam rumah dengan sekali klik dan sedapat mungkin meminimalisir perjumpaan di ruang publik.Pusat kota dan jalanan seolah mati, pertemuan antar subjek (pribadi) terkesan anonim sekaligus menuntut afirmasi sosial.

Eli Pariser (2011), menyebutnya dengan istilah filter bubble (gelembung filter) dimana media digital menjadi penjara baru. Internet dengan kemampuan filterisasinya mempersonalisasi (personalization) setiap individu yang menggunakannya. Banyak dari kita mungkin berharap jika media digital dapat memperkuat modal hubungan sosial. Media digital dalam hal internet, make us all next door neighbors (Friedman, 2007). Sayangnya, bukan itu yang terjadi: tetangga virtual kita semakin mirip tetangga di dunia nyata, sedangkan dunia nyata menjadi semakin meaningless.

Pola digital juga memungkinkan batas antara fakta dan fiksi menjadi kabur. Segala yang disajikan merupakan produk rekayasa dan cenderung menegasi realitas. Lantas, apa yang sekarang sangat dibutuhkan? Ideologi digital perlu jujur dalam menyampaikan kebenaran realitas.

Kebertubuhan dalam Ruang Digital

Reaksi selama masa pandemik bermunculan dalam berbagai bentuk. Ada yang menolak dan menganggap covid-19 sejenis aib atau kutukan. Ada yang marah bahkan saling menyalahkan. Hidup menjadi kian mirip dengan dagangan di pasar yang bisa ditawar sampai pada titik yang paling rendah. Tubuh dalam hitungan hari bahkan jam berpeluang besar untuk menjadi kaku dan mati. Orang menjadi depresi karena kehilangan kerabat terdekat atau di-PHK akibat dampak virus corona.

Namun di sisi lain, ada orang yang melihat pandemik virus ini sebagai bencana, hanya perlu kepasrahan untuk menerima segala risikonya. Bahkan, pada tingkat yang lebih sublime, kondisi pandemik mengingatkan kita akan seberapa besar kerinduan kita akan kebutuhan spiritual dan sumbangsih kita terhadap peradaban ekologis yang telah kita bangun selama ini.

Menarik bahwa di antara riuhnya informasi dan imaji yang serba kontradiktif, tubuh pun akhirnya dialami sebagai perlindungan terakhir individu. Ada saatnya tubuh butuh ruang privasi untuk menyendiri. Namun di pihak lain, ia tak bisa mengelak dari jaringan relasi dengan semua realitas teknologi yang serba virtual, walaupun hanya dijadikan objek penderita, bukan sebagai subjek yang otentik.

Menyikapi ini, tubuh harus dikembalikan lagi pada fungsinya sebagai subjek yang memiliki ruang sakralnya sendiri tanpa diintervensi oleh kepentingan kultural, politik, ekonomi, dan religius. Dengan kata lain, menghormati sakralitas kebertubuhan identik dengan penghormatan terhadap pribadi yang lain sebagai subjek, pemuliaan martabat manusia dan kesejahteraan ekologis.

Kita semua berharap kondisi krisis akibat pandemik ini memiliki konsekuensi positif, bukan sebaliknya melegitimasi penderitaan. Jika ditarik ke dalam konteks kebangsaan kita, kondisi saat ini menjadi waktu yang tepat untuk mengukur seberapa besar kualitas penghargaan kita terhadap tubuh dan kesiapan kita memasuki era revolusi digital. Ini bukan saatnya kita merasa malu, atau menganggapnya sebagai aib.

Satu-satunya alasan untuk merasa malu hanyalah jika kita meremehkan virus ini, sambil melindungi diri sendiri dan mencari berbagai macam alibi ideologis yang sebenarnya hanya menunjukkan ketidak-siapan kita untuk bersaing secara lebih kompeten pada tingkat global.

Harapan besar, selama masa pandemik ini sakralitas kebertubuhan kita tetap menjadi idealisme yang dihidupi dalam perilaku yang bermartabat tanpa perlu terdegradasi oleh ideologi digital. [*]

Willfridus Demetrius Siga, S.S., M.Pd
(Dosen Fakultas Filsafat – Lembaga Pengembangan Humaniora - Universitas Katolik Parahyangan Bandung)
willy_d@unpar.ac.id
[https://nasihatcanggih.blogspot.com/2020/05/pandemik-tubuh-dan-ideologi-digital_10.html]

Source : http://genial.id/read-news/pandemik-tubuh-dan-ideologi-digital

----------------------------------
Artikel lain:

Nasib Pendidikan Tinggi Pasca Pandemi

Pandemi Covid-19 diyakini sebagai krisis global terbesar abad ini. Konsekuensinya bukan hanya menyerang sistem kesehatan masyarakat, tetapi juga berimbas pada ekonomi dan pendidikan. Pada sisi yang lain, pandemi Covid-19 membuka harapan akan kerjasama tanpa batas lintas generasi untuk bersama mencari solusi agar bisa keluar dari krisis ini.

Pandemi ini menjadi bukti bahwa kehidupan adalah sebuah jejaring ekosistem yang saling bergantung. Peluang yang sama juga menjadi perhatian dunia pendidikan untuk memikirkan kembali bagaimana mendidik generasi pasca pandemi. Krisis ini harus diakui membuat para pendidik juga ikut bergulat dengan model alternatif untuk dapat terhubung dengan mahasiswa dalam ruang digital dan metode pembelajaran yang semestinya diberikan kepada mahasiswa.

Indonesia tidak luput dari pandemi. Krisis ini membuat banyak sektor berpikir keras untuk mengatasi risiko terburuk, termasuk sektor pendidikan. Apa dampaknya terhadap pendidikan tinggi di Indonesia pasca pandemi? Fakta yang tak terelakkan bahwa, mayoritas mahasiswa merupakan generasi yang tumbuh di dunia yang benar-benar global. Generasi teknologi, di mana segala bentuk kesadaran akan identitas dan ekspektasi hidup ditentukan oleh komunikasi instan sebagai cara hidup media sosial. Iklim ini yang kemudian memaksa dunia kampus untuk memberi perhatian dan anggaran lebih bagi ketersediaan plarform pembelajaran digital dan perkuliahan dengan mekanisme daring.

Situasi pandemi membuat kebanyakan lembaga pendidikan tinggi mungkin bertanya-tanya, bagaimana mengubah sistem pendidikan agar mahasiswa siap dengan kondisi apapun yang terjadi pada masa depan? Pendidikan tinggi harus menempatkan proses akademik dalam kerangka mendidik umat manusia untuk menjadi komunitas humanum yang saling terhubung dan bekerja melalui kolaborasi global. Konsekuensi langsung adalah para pendidik harus bergerak ke arah memfasilitasi pengembangan kualitas mahasiswa sebagai anggota masyarakat yang memiliki kontribusi terhadap perubahan.

Fokus pada Keterampilan Manusia

Industri masa kini diciptakan berbasis teknologi dan menuntut keterampilan manusia berkembang lebih cepat. Pendidik dan pemimpin pendidikan tinggi harus focus pada kompetensi lulusan yang dibutuhkan seiring pola pertumbuhan yang fleksibel dan mendukung karir profil lulusan. Mahasiswa didorong harus terampil mendekati masalah dari banyak perspektif, menumbuhkan dan mengeksploitasi daya kreativitas imajinatif, terlibat dalam komunikasi yang kompleks, dan memanfaatkan kemampuan berpikir kritis.

Keterampilan itu antara lain: kreativitas, Imaginatif, abstraksi., komunikasi dan kolaborasi, empati dan kecerdasan emosional, dan mampu bekerja efektif secara kolektif tanpa mempersoalkan identitas. Model Integrated curriculum menjadi peluang terbaik dalam mengkombinasikan semua disiplin ilmu untuk berpikir dan bekerja lintas batas dan generasi. Konkretnya, keahlian vertikal (disiplin ilmu sesuai minat/jurusan mahasiswa) dikombinasikan dengan pengetahuan horizontal (disiplin lintas bidang di luar jurusan yang diminati mahasiswa).

Digitalisasi Menjadi Keharusan

Situasi pandemi ini juga ‘memaksa’ pendidikan tinggi (faktanya mulai dari pendidikan anak usia dini) untuk memanfaatkan serangkaian platform pembelajaran digital (e-learning) sehingga transfer ilmu mudah diakses oleh mahasiswa dimana pun mereka berada. Kita mungkin tidak dapat lagi mengandalkan ruang kelas di saat pandemi karena pembatasan sosial dianggap menjadi salah satu solusi untuk memutus mata rantai penyebaran virus.

Namun, kebutuhan akan transfer ilmu dan capaian akademik tidak boleh meyerah terhadap kondisi pandemic. Ada kebutuhan yang tidak dapat disangkal untuk mengembangkan kompetensi digital dengan fasih dan bertanggung jawab.

Analisis The Wall Street Journal menemukan bahwa lebih dari 40% pekerja manufaktur sekarang memiliki gelar sarjana. Pada 2022, industri diproyeksi mempekerjakan lebih banyak lulusan perguruan tinggi daripada pekerja dengan pendidikan sekolah menengah (Global Economic Forum). Alat pembelajaran berbasis teknologi Artificial Intelligece (AI) memiliki potensi luar biasa untuk mempersonalisasi pendidikan, meningkatkan kesiapan sistem pendidikan, akses perguruan tinggi ke masyarakat dan dunia industri, meningka tkan kualitas lulusan, bahkan diprediksi mempersempit kesenjangan sosial-ekonomi dan SARA.

Kolaborasi Sektor Swasta dan Pemerintah

Langkah cepat kemajuan pendidikan tinggi mengadaikan kolaborasi koprehensif antara sektor swasta dan pemerintah yang meliputi kebijakan, akses, program, dan jangkauan layanan pendidikan. Sektor swasta, pemerintah, pendidik, dan pembuat kebijakan harus bekerja sama memberikan banyak peluang bagi lulusan perguruan tinggi untuk diterima oleh pasar kerja dan pelatihan berkelanjut untuk tetap bertahan di dunia kerja.

Sebagai contoh, perguruan tinggi harus terus melakukan inovasi sumber daya manusia, manajemen kepemimpinan, dan desain program jurusan yang relevan. Kolaborasi juga harus terafiliasi dengan riset perguruan tinggi, tuntutan peradaban, kebutuhan socio-entrepreneurship, dan keseimbangan ekologis.

Ketika pandemic menggerogoti revolusi peradaban, kemajuan yang tak terelakkan dari teknologi terus mengubah ruang sipil dan dunia kerja. Sistem pendidikan tidak boleh terputus dari kebutuhan ekonomi dan masyarakat global. Masa depan menuntut sistem pendidikan tinggi yang dinamis dan dapat beradaptasi dengan tekonologi.

Model pendidikan harus beradaptasi untuk membekali setiap generasi dengan keterampilan untuk menciptakan dunia yang lebih inklusif, kohesif, dan produktif. Beberapa pekerjaan yang dianggap tidak efisien dan efektif akan hilang dengan sendirinya, ekonomi bergerak sangat cepat, dan pendidikan tinggi harus mampu menyiapkan kualitas generasi (lulusan) yang kompeten dan terampil untuk saat ini dan masa yang akan datang. [*]


Willfridus Demetrius Siga, S.S., M.Pd

Dosen Fakultas Filsafat – Lembaga Pengembangan Humaniora - Universitas Katolik Parahyangan Bandung




Thursday, February 14, 2019

Pembusukan Filsafat di Ruang Publik Harus Dihentikan


PEGIAT filsafat di Indonesia mengecam adanya praktik pembusukan filsafat. Kegiatan itu untuk meluruskan fungsi filsafat ke jalur sebenarnya dan bukan sebagai skenario membungkam Rocky Gerung, pengamat politik yang sempat mengeluarkan pernyataan kontoversial, seperti fiksi dan akal sehat.
Diskusi bertajuk Menolak Pemiskinan dan Pembusukan Filsafat di Ruang Publik, itu digelar di Jakarta, Rabu (13/2).
Acara dihadiri ratusan pegiat filsafat, diantaranya budayawan Goenawan Mohamad, dosen filsafat Universitas Indonesia Donny Gahral Adian, eks peneliti LIPI Mochtar Pabotinggi, dan alumnus STF Driyarkara Jakarta Edisius Riyadi Terre.
Edisius mengemukakan, pembusukan filsafat itu muncul dalam dua bentuk. Pertama, filsafat digunakan untuk menjustifikasi kepentingan politik tertentu, tanpa konfrontasi apakah hal tersebut menyumbang pada telos (tujuan) setiap kebijakan, yaitu kohabitasi yang berkedamaian dan berkeadilan.
"Kedua, filsafat dilacurkan sebagai alat untuk tujuan subsistens semata dan bukan lagi sebagai sebuah art of thinking, sebagaimana menjadi praktik para filsuf Yunani kuno," katanya.
Tidak hanya dalam politik, sambung Mochtar, praktik-praktik serupa juga membahana lewat publikasi media massa dan percakapan di media sosial.
Alih-alih mendorong diskursus publik berdasarkan hikmat kebijaksanaan, sebagian pihak justru membajak ruang publik demi menegaskan demarkasi permusuhan kawan dan lawan.
Pada kesempatan itu, para pegiat filsafat juga memberikan 6 pernyataan sikap terkait kondisi yang belakangan terjadi.
Pertama, menolak praktik sofisme atau permainan tipu daya dengan kelihaian silat lidah dan permainan kata untuk mengecoh lawan bicara, semisal mengajukan dalil-dalil seolah argumentasi padahal sejatinya bukan.
Kedua, menolak kesesatan berpikir dengan mengabaikan kaidah-kaidah berlogika dan penyebarluasannya, sekadar demi pembenaran dan kepentingan diri sendiri. Ketiga, mendorong praktik berpikir logis sekaligus kritis demi menghindari kesesatan berpikir dan dogmatisme politik tidak bernalar.
Keempat, menolak penyebarluasan disinformasi dan pesan-pesan kebencian yang bukan hanya merusak kepercayaan silang, melainkan pula mendorong permusuhan dan menegasikan alasan berdirinya Indonesia.
Kelima, mendorong perwujudan diskursus publik yang hidup dari pergulatan beragam pemikiran kritis, serta mampu menyediakan alternatif solusi atas masalah-masalah bersama. Terakhir, mendorong praktik politik demokratis, termasuk dalam kontestasi elektoral dengan bersandar pada norma-norma etis permusyawaratan rakyat. (OL-8)
Penulis: Golda Eksa
Source : http://mediaindonesia.com/read/detail/216737-pembusukan-filsafat-di-ruang-publik-harus-dihentikan?utm_source=dable

Friday, September 21, 2018

Petuah Ma Yun -Jack Ma- orang terkaya Tiongkok, pemilik situs belanja online Alibaba



Petuah Ma Yun ( Jack Ma ) orang terkaya Tiongkok, pemilik situs belanja online Alibaba.*_
Ada 11 Jenis Orang Yang Tidak Bisa Ditolong, 10 Jenis Orang Yang Bisa Diajak Kerjasama, 5 Jenis Orang Yang Tidak Bisa Dijadikan Rekan Usaha.
馬雲:11種人不能幫,10種人可合作,5種人不合夥

11 Jenis Orang Yang Tidak Bisa Ditolong :
11種人不能幫
1. Orang yg lupa budi.
1、忘恩的人;
2. Orang yg dalam usahanya mencari uang mengesampingkan Kebenaran dan Keadilan.
2、掙錢違背道義的人;
3. Orang yg demi keuntungan pribadi merugikan orang lain.
3、損人而利己之人;
4. Orang yg di depan penuh sopan santun di belakang bersiasat busuk.
4、表面一套背後玩陰之人;
5. Melihat keuntungan melupakan Kebenaran, orang yg tidak punya prinsip.
5、見利忘義,沒原則之人;
6. Tidak menjaga kepercayaan orang lain, saat memohon pertolongan memelas, saat memperoleh kekuasaan menjadi jahat.
6、不守信用,求救時可憐,得勢時可惡之人;
7. Orang yg tidak beres mengurus hal kecil tapi ingin menangani hal besar.
7、做不了小事,卻想幹大事的人;
8. Orang yg meletakkan harapan di pundak orang lain.
8、把希望寄託在別人身上的人;
9. Orang yg setelah dibantu tidak memegang janji.
9、幫過忙,不履約的人;
10. Orang yg mendapat kesempatan masih tetap mengeluh juga.
10、有機會還裝窮的人。
11. Hati yg tidak berterima kasih. Orang yg merasa semuanya sudah sepantasnya ia dapatkan.
11、沒有感恩之心.一切都感覺是理所應當的人

10 Jenis Orang Yang Paling Tepat Diajak Menjadi Rekanan
最適合做合夥人的10種人
1. Keduanya merupakan teman yg dapat diajak berdiskusi.
1、彼此是談得來的朋友。
2. Mempunyai pandangan tentang nilai kemanusiaan yg sama.
2、有共同的人生價值觀。
3. Keduanya dapat saling percaya dan memahami sepenuhnya.
3、彼此能充分了解信任。
4. Mudah berkomunikasi dan saling memahami saat bertemu masalah.
4、遇事彼此易溝通。
5. Keduanya saling memiliki semangat berkorban.
5、彼此有奉獻犧牲精神。
6. Keduanya memiliki rasa toleransi yg besar.
6、彼此寬容大度。
7. Mempunyai cita-cita yg saling berhubungan secara mendasar.
7、志趣要能基本相投。
8. Keduanya dapat secara pasti saling mendukung.
8、彼此能堅定支持對方。
9. Keduanya mempunyai latar belakang profesional yg pasti.
9、彼此有一定專業背景。
10. Mempunyai idealisme dan keyakinan yg sama.
10、有共同理想、信念。

Ada 5 Jenis Orang Yang Samasekali Tidak Boleh Diajak Kerjasama
*5種絕對不能合夥的人 *
1. Jangan bekerjasama dg orang yg ambisi pribadinya terlalu besar, karena mereka tidak mampu melihat pengorbanan orang lain, dan hanya peduli dg tujuan bagi diri sendiri.
1、不與私慾太重的人合作,因為他們看不見別人的付出,只在意自己的結果。
2. Jangan bekerjasama dg orang yg tidak punya misi hidup, karena mereka hanya menjadikan uang sebagai tujuan, yg penuh dg bau busuk keserakahan.
2、不與沒有使命感的人合作,因為他們只以賺錢為目的,充滿了銅嗅的貪婪。
3. Jangan bekerjasama dg orang yg tidak punya nurani, karena egois dan serakah, bersama dg mereka anda akan tidak bahagia.
3、不與沒有人情味的人合作,因為自私貪婪,在一起會不快樂。
4. Jangan bekerjasama dg orang yg negatif dan pesimis, karena mereka bisa menyedot kering semangat positifmu.
4、不與負面消極的人合作,因為他們會吸乾你的正能量。
5. Jangan bekerjasama dg orang yg tidak punya falsafah hidup, karena mereka tidak percaya dg mimpi mampu menghadapi tekanan dan godaan di depan mata.
5、不與沒有人生原則的人合作,因為他們不相信夢想抵擋不住眼前的壓力和誘惑。

SEMBILAN FILOSOFI JAWA YANG SERING DIAJARKAN OLEH SUNAN KALIJAGA

























Menyongsong bulan syuro ada SEMBILAN FILOSOFI JAWA YANG SERING DIAJARKAN OLEH SUNAN KALIJAGA  

1. URIP IKU URUP

" Hidup itu Nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik ".

2. MEMAYU HAYUNING BAWANA

" Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak ".

3. SURO DIRO JOYO JAYADININGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI

" Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar "

4. NGLURUK TANPO BOLO, MENANG TANPO NGASORAKE, SEKTI TANPO AJI-AJI, SUGIH TANPO BONDHO

" Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan "

5. DATAN SERIK LAMUN KETAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KELANGAN

" Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu "

6. OJO GUMUNAN, OJO GETUNAN, OJO KAGETAN, OJO ALEMAN

" Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja "

7. OJO KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN

" Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi "

8. OJO KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, OJO CIDRA MUNDAK CILAKA

" Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka "

9. OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNO

" Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti ".
Di atas langit ada langit.

Email : fellyginting95@gmail.com

Name

Email *

Message *